
Pertanyaan yang mengenaskan ketika ada seorang ibu akan mendaftarkan anaknya untuk bersekolah. Yang melemparkan pertanyaan adalah orang tua murid dari salah satu sekolah dasar yang berada dikomplek SD "Empang", ditujukan kepada ibu tadi karena mendaftarkan anaknya di SDN Tebet Timur 17 Pagi.
Tanya Kenapa?
Ya, tanya kenapa? karena SD Tebet Timur 17 Pagi dianggap SD yang paling rendah 'grade'nya dibanding sekolah lain di komplek SD Empang. Di komplek ini terdiri dari SDN 17, SDN 18, SDN 19 dan SDN 20. Tiga sekolah lainnya memiliki rata-rata peserta didik dari kalangan yang ada, dengan ditunjukkan pada fasilitas yang dimiliki, kemampuan orang tua murid, dan tentunya 'uang sekolah'nya.
Setiap tahun ajaran baru, sejak saya kenal sekolah ini, bila SD lain dengan membebankan orangtua calon murid dengan kewajiban sumbangan, mereka masih tetap mendaftar. Sedangkan di SD 17, dengan membebaskan uang pendaftaran sekalipun, yang mendaftar paling sedikit, dan itu kebanyakan dari golongan orang tua yang sederhana. Hingga saat inipun, orangtua dari murid di SD ini tidak lebih dari 10% yang berpendidikan sarjana.
Apakah memang pendidikan bagus berbanding lurus dengan keberadaan orang tua anak didik?
Pertanyaan ini mungkin ada benarnya, tapi pasti tidak benar berbanding lurus.
Bagi saya seorang guru, keadaan ini memang harus diubah. Tapi bagaimana?
Bisakah pembaca memberi masukan?
Tanya Kenapa?
Ya, tanya kenapa? karena SD Tebet Timur 17 Pagi dianggap SD yang paling rendah 'grade'nya dibanding sekolah lain di komplek SD Empang. Di komplek ini terdiri dari SDN 17, SDN 18, SDN 19 dan SDN 20. Tiga sekolah lainnya memiliki rata-rata peserta didik dari kalangan yang ada, dengan ditunjukkan pada fasilitas yang dimiliki, kemampuan orang tua murid, dan tentunya 'uang sekolah'nya.
Setiap tahun ajaran baru, sejak saya kenal sekolah ini, bila SD lain dengan membebankan orangtua calon murid dengan kewajiban sumbangan, mereka masih tetap mendaftar. Sedangkan di SD 17, dengan membebaskan uang pendaftaran sekalipun, yang mendaftar paling sedikit, dan itu kebanyakan dari golongan orang tua yang sederhana. Hingga saat inipun, orangtua dari murid di SD ini tidak lebih dari 10% yang berpendidikan sarjana.
Apakah memang pendidikan bagus berbanding lurus dengan keberadaan orang tua anak didik?
Pertanyaan ini mungkin ada benarnya, tapi pasti tidak benar berbanding lurus.
Bagi saya seorang guru, keadaan ini memang harus diubah. Tapi bagaimana?
Bisakah pembaca memberi masukan?